Magic Eden meluncurkan program pembelian kembali: 15% pendapatan pasar NFT digunakan untuk membeli kembali ME, dan 15% pendapatan lainnya digunakan untuk membeli kembali NFT
Foresight News melaporkan bahwa platform perdagangan multi-chain Magic Eden mengumumkan peluncuran program buyback pertamanya, dengan komitmen untuk menggunakan 15% dari pendapatan pasar NFT-nya untuk membeli kembali token asli mereka, ME, serta mengalokasikan tambahan 15% untuk membeli koleksi NFT yang terdaftar di platform sebagai bagian dari rencana dukungan ekosistem awal. NFT yang dibeli kembali ini akan disimpan di The Garden of Eden, yaitu gudang aset on-chain yang bersifat publik. Buyback token akan dimulai segera, sementara buyback NFT akan dimulai dari koleksi berbasis Solana, lalu secara bertahap diperluas ke Bitcoin, Monad, Ethereum, dan ekosistem lainnya selama tahun 2025.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Saham AS mengalami pergerakan | Saham chip sebagian besar turun, Intel (INTC.US) turun lebih dari 7%
Pada hari Senin, saham chip mengalami penurunan secara luas, Intel (INTC.US) turun lebih dari 7%, SK Hynix (SKHY.US) dan SanDisk (SNDK.US) turun 7%.

Anthropic menggandeng perusahaan terkait Trump, RUM Group (RUM.US)! Kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar memicu kekhawatiran konflik kepentingan
Anthropic telah menandatangani kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar AS dengan RUM Group untuk jangka waktu enam tahun. Hubungan dekat RUM Group dengan Trump juga memicu kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan.

Data historis menunjukkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tidak cukup untuk mengakhiri bull market, siklus pengetatan yang lengkap adalah ancaman sebenarnya.
Sejak tahun 1945, S&P 500 telah mengalami 12 kali bear market dengan penurunan lebih dari 20% dan 4 kali koreksi mendalam antara 18% hingga 20%. Di antaranya, 6 kali terjadi setelah siklus kenaikan suku bunga yang secara langsung menyebabkan resesi ekonomi, sementara dua kali lainnya tidak berkaitan dengan kenaikan suku bunga maupun resesi. Goldman Sachs menilai bahwa pasar telah mengantisipasi beberapa kali kenaikan suku bunga; Morgan Stanley memperingatkan bahwa kenaikan yield dapat memicu koreksi; sedangkan JPMorgan lebih fokus pada harga minyak dan profitabilitas.
