Analisis: Harga emas dan perak turun tajam, likuiditas rendah waspadai volatilitas berkelanjutan
Menurut Odaily, dengan pergerakan kuat harga perak sepanjang minggu lalu, komoditas ini tanpa diragukan lagi menjadi pusat perhatian. Rumor tentang short squeeze dan margin call memicu lonjakan harga terakhir pada hari Jumat lalu, namun kini suasana pasar mulai memudar. Harga perak turun lebih dari 7 dolar dalam sehari, mencatat penurunan nominal harian terbesar dalam sejarah. Saat ini, logam mulia menjadi pasar yang sangat dipengaruhi oleh sentimen, emas juga terkena aksi ambil untung hari ini dan turun sekitar 4% dalam sehari. Beberapa analis menunjukkan bahwa saat ini merupakan periode perdagangan yang cukup menantang. Likuiditas pasar secara keseluruhan cenderung rendah, yang sering menyebabkan fluktuasi harga yang sangat besar. Hedge fund enggan mengambil posisi berlawanan untuk melakukan lindung nilai terhadap pergerakan harga yang berlebihan, sementara market maker juga membatasi partisipasi mereka. (Golden Ten Data)
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Saham AS mengalami pergerakan | Saham chip sebagian besar turun, Intel (INTC.US) turun lebih dari 7%
Pada hari Senin, saham chip mengalami penurunan secara luas, Intel (INTC.US) turun lebih dari 7%, SK Hynix (SKHY.US) dan SanDisk (SNDK.US) turun 7%.

Anthropic menggandeng perusahaan terkait Trump, RUM Group (RUM.US)! Kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar memicu kekhawatiran konflik kepentingan
Anthropic telah menandatangani kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar AS dengan RUM Group untuk jangka waktu enam tahun. Hubungan dekat RUM Group dengan Trump juga memicu kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan.

Data historis menunjukkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tidak cukup untuk mengakhiri bull market, siklus pengetatan yang lengkap adalah ancaman sebenarnya.
Sejak tahun 1945, S&P 500 telah mengalami 12 kali bear market dengan penurunan lebih dari 20% dan 4 kali koreksi mendalam antara 18% hingga 20%. Di antaranya, 6 kali terjadi setelah siklus kenaikan suku bunga yang secara langsung menyebabkan resesi ekonomi, sementara dua kali lainnya tidak berkaitan dengan kenaikan suku bunga maupun resesi. Goldman Sachs menilai bahwa pasar telah mengantisipasi beberapa kali kenaikan suku bunga; Morgan Stanley memperingatkan bahwa kenaikan yield dapat memicu koreksi; sedangkan JPMorgan lebih fokus pada harga minyak dan profitabilitas.
