Minggu Data Super di Depan: Non-Farm Payrolls Dimajukan ke Kamis, Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Rebalancing Akhir Bulan Memperbesar Risiko Volatilitas
BlockBeats News, 28 Juni. Pekan ini, pasar global akan menghadapi situasi yang sangat kompleks dengan berbagai faktor yang saling berlapis: Super Data Week, rilis awal data non-farm payroll, rebalancing institusi pada akhir bulan/kuartal/tahun, serta meningkatnya konflik antara AS dan Iran, yang berpotensi menimbulkan lonjakan volatilitas pasar yang signifikan.
Dari sisi geopolitik, meski terdapat kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, situasi tegang belum mereda. Pada hari Sabtu, militer AS melancarkan serangan udara putaran kedua terhadap target Iran sebagai respons atas penembakan kapal tanker minyak berbendera Panama "Kiku" oleh Iran, yang mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah. Garda Revolusi Iran kemudian meluncurkan serangan rudal dan drone ke Kuwait dan Bahrain, serta memperingatkan bahwa setiap pelanggaran kesepakatan akan memicu "respon destruktif". Risiko di Selat Hormuz kembali meningkat, memberikan tekanan pada harga minyak yang sebelumnya turun ke sekitar $72. Deutsche Bank memperingatkan bahwa pasar terlalu optimis tentang pemulihan pasokan, karena level persediaan di terminal minyak Kharg berada di bawah tingkat yang diperlukan untuk stabilitas sistem.
Dari sisi data, karena pasar AS tutup pada 4 Juli untuk Hari Kemerdekaan, laporan non-farm payroll bulan ini akan dirilis lebih awal pada Kamis, 2 Juli. Pasar memperkirakan penambahan 130 ribu pekerjaan pada bulan Juni. Data kalender minggu ini sangat padat, termasuk JOLTS job openings pada hari Selasa, ADP employment dan ISM Manufacturing PMI pada hari Rabu, CPI awal zona Euro untuk Juni, serta rangkaian rilis data yang akan memengaruhi pasar secara bergantian. Selain itu, PCE bulan Mei yang dirilis pekan lalu naik menjadi 4,1% year-on-year, mencapai level tertinggi hampir tiga tahun, semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed akhir tahun ini.
Dari sisi performa aset, indeks S&P 500 telah naik lebih dari 7% di paruh pertama tahun ini, Philadelphia Semiconductor Index melonjak 85% dari level terendah Maret, namun NASDAQ turun lebih dari 4% pekan ini. Emas gagal bertahan di atas $1800 di tengah tekanan data AS yang kuat dan inflasi, namun survei Kitco menunjukkan baik institusi maupun investor ritel mayoritas bersikap bearish. JPMorgan Chase menaikkan target akhir tahun untuk S&P 500 dari 7200 menjadi 7800 pekan ini, namun banyak institusi menyarankan investor tetap berhati-hati memasuki paruh kedua tahun serta menunggu peluang beli yang tercipta dari volatilitas pasar.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

