Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
Rupiah Tergelincir ke 17.614 Imbas Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Rupiah Tergelincir ke 17.614 Imbas Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Liputan6Liputan62026/09/14 04:15
Oleh:Liputan6
Sentimen kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin, (14/9/2026). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin, (14/9/2026). Analis menilai, rupiah melemah terhadap dolar AS didorong kenaikan suku bunga the Federal Reserve ( the Fed).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin pekan ini turun tiga poin atau 0,02% menjadi 17.614 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 17.611 per dolar AS.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.600 – Rp 17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis, 17 September 2026, minggu ini,” ujar Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova seperti dikutip dari Antara.

Ia menuturkan, suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis points (bps) menjadi 4%.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi membuat Bank Indonesia (BI) akan mengambil langkah hawkish pada pekan depan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), ditambah lagi tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah mendekat 5% di level 4,96% dan indeks dolar sudah menyentuh angka 99.

Selain itu, ia mengatakan, ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di US$ 70 per barel.

Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober menembus angka US$ 100 per barel per Kamis, 10 September 2026.

Harga WTI untuk pengiriman Oktober sempat menyentuh level US$ 100,88 per barel, naik US$ 4,83 atau 5,03% dari Rabu, 9 September 2026. Angka ini menandai level tertinggi untuk kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

Penutupan Rupiah Pekan Lalu

Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat. Rupiah turun 64 poin atau 0,36 persen menjadi 17.611 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 17.547 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level 17.611 per dolar AS dari sebelumnya 17.536 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi respons pasar terhadap kenaikan data Producer Price Index (PPI) AS.

“Rupiah pada perdagangan Jumat masih bergerak di bawah tekanan setelah pasar merespons data PPI AS (meningkat menjadi 5,4 persen year on year (yoy) dari 4,8 persen yoy pada bulan sebelumnya, melampaui konsensus sebesar 5,3 persen yoy) yang dirilis Kamis (10/9),” katanya dikutip dari Antara, Jumat (11/9/2026).

Kenaikan PPI menjadi 5,4 persen secara tahunan kembali memicu perhatian investor terhadap risiko inflasi di AS. Kondisi tersebut juga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Imbasnya, yield obligasi AS meningkat dan permintaan terhadap dolar tetap terjaga.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!