"Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat menghadapi musim kering dampak El Nino," kata Amran di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu (20/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa langkah penguatan produksi, pembenahan irigasi, dan penyediaan pupuk terjangkau menjadi strategi kunci untuk menjaga ketersediaan beras di tengah tantangan siklus pertanian. Dengan kondisi saat ini, pemerintah memiliki bantalan stok yang sangat memadai untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat hingga musim panen berikutnya.
Advertisement
"Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap," ujar Mentan.
Gambaran kekuatan ketahanan pangan Indonesia tecermin dari akumulasi stok di berbagai sektor. Standing crop atau tanaman yang siap panen saat ini diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton. Di saat bersamaan, cadangan beras di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) berada di angka sekitar 10 juta ton, ditambah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog yang menyentuh angka 5 juta ton.
Secara keseluruhan, total ketersediaan beras nasional berada di kisaran 25 hingga 26 juta ton. Jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi masyarakat yang berada di angka 2,5–2,6 juta ton per bulan, Indonesia memiliki cadangan yang melimpah untuk melewati masa antarmusim atau paceklik.
"Yang di Horeka, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti (stok beras secara keseluruhan sekitar) 25–26 juta ton. Sementara kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton," ujar Amran.
Fokus Kontinuitas Produksi
Meski demikian, Amran menekankan bahwa kekuatan pilar pangan tidak hanya bersandar pada cadangan yang ada saat ini, tetapi juga kontinuitas produksi di tingkat petani. Bagi Kementerian Pertanian, fokus utama adalah menjaga keberlanjutan pasokan di jeda antara satu musim panen ke musim panen berikutnya.
Dengan fondasi pasokan yang solid, Indonesia kini tidak hanya fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai melirik potensi pasar internasional melalui ekspor beras.
"Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?" ujar Mentan pula.
Advertisement
Dukungan Infrastruktur Irigasi dan Pupuk Murah
Keberhasilan menjaga kesinambungan produksi pangan ini tak lepas dari kebijakan strategis pemerintah di sektor hulu. Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya di acara HUT partai tersebut, mengungkapkan bahwa pemerintah telah membangun infrastruktur irigasi secara masif guna mendukung produktivitas lahan.
"Lebih dari 1.000 kilometer irigasi terbangun," ujar Presiden.
Jaringan irigasi ini memastikan ketersediaan air tetap terjaga, sehingga lahan pertanian bisa terus ditanami dan diolah secara optimal.
Selain infrastruktur air, sektor input produksi juga mendapatkan perhatian khusus melalui perbaikan kebijakan pupuk. Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah berhasil menekan harga pupuk sekaligus menambah volume alokasinya bagi petani.
"Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah," kata Presiden lagi.
Langkah ini menjadi stimulus langsung yang meringankan beban biaya budi daya petani. Berkat kombinasi kebijakan penguatan infrastruktur, pupuk terjangkau, dan penguatan produksi, Indonesia berhasil mencatatkan pencapaian swasembada pada delapan komoditas pangan dalam kurun waktu satu tahun.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
