Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 500 menjadi Rp 42.350. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 42.850.
Lalu bagaimana harga perak dunia?
Advertisement
Mengutip laman tradingeconomics.com, harga perak dunia naik 0,19% menjadi US$ 63,941.
Harga perak tertahan di bawah US$ 64 per ons pada Jumat dan diperkirakan akan turun sekitar 4% sepanjang minggu ini. Hal ini tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) di tengah meningkatnya ekspektasi kalau Federal Reserve mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk meredam inflasi.
Pada Kamis pekan ini, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing naik ke level tertinggi sejak 2007 dan 2004, sementara nilai tukar dolar menguat ke level tertinggi dalam hampir dua bulan.
Pergerakan pasar ini dipicu oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan serta tingginya harga minyak, yang memicu kekhawatiran mengenai inflasi yang persisten dan suku bunga yang lebih tinggi.
Saat ini, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, menyusul kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir yang terjadi pekan lalu.
Di sisi lain, harga minyak turun menyusul laporan AS dan Iran sedang mempertimbangkan kesepakatan bertahap yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas melemah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026 waktu setempat. Pergerakan harga emas dunia ini dipengaruhi rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan Purchasing Manager’s Index (PMI).
Mengutip Vietnam.vn, Jumat (25/9/2026), harga emas spot turun US$ 30 menjadi US$ 4.263 per ons. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman November 2026 diperdagangkan di kisaran US$ 4.297 per ons.
Sementara itu, berdasarkan Departemen Tenaga Kerja S, jumlah klaim awal tunjangan pengangguran (yang disesuaikan secara musiman) turun menjadi 197.000, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 201.000. Angka minggu lalu direvisi sedikit naik menjadi 198.000.
Inflasi yang persisten dan pasar tenaga kerja yang relatif kuat memperkuat harapan kalau the Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar AS. Hal itu memberi tekanan ke harga emas.
Sebelumnya, harga emas sempat tertekan setelah AS merilis data PMI September yang lebih baik dari perkiraan. Angka awal PMI gabungan (composite PMI) September naik menjadi 58,4 poin dari 56 poin pada Agustus, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2021. PMI manufaktur naik dari 53,9 menjadi 57 poin. Sementara itu, PMI jasa naik dari 56,5 menjadi 58,7 poin.
Advertisement
Sentimen Harga Emas Lainnya
Dalam survei PMI tersebut, indeks biaya input naik menjadi 66,4 poin dari 59,9 poin pada bulan sebelumnya, level tertinggi sejak Oktober 2022. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar kalau The Fed akan terus menaikkan suku bunga pada Oktober.
Pasar telah memperhitungkan probabilitas sebesar 70,9%The Fed akan menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari sekitar 53% sebelumnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun sempat naik ke angka 5,106%, level tertinggi sejak tahun 2007. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun juga mendekati level 4,9%. Dolar AS menguat terhadap euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, dan dolar Kanada (CAD), yang semakin menambah tekanan pada harga emas.
Harga minyak mentah Brent sempat melampaui US$ 103 per barel, sementara minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran US$ 92,6 per barel. Perkembangan situasi di Selat Hormuz dan ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran pasar mengenai pasokan energi, terutama di tengah ketatnya pasokan bahan bakar diesel.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
