Yen menguat hingga 1,2% pada perdagangan Jumat kemarin, penguatan terbesar sejak 7 September, ke level 156,94 per dolar AS. Kinerja yen juga menjadi yang terkuat dibandingkan seluruh mata uang negara anggota Grup 10 (G10).
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut nilai tukar yang terlalu rendah sebagai sesuatu yang “bermasalah” saat bertemu Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan intervensi untuk menopang yen.
Advertisement
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dirinya membahas “pentingnya yen yang kuat” dengan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.
“Risiko intervensi seharusnya membatasi pelemahan yen lebih lanjut,” kata Moh Siong Sim, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp dikutip dari The Jalan Times, Sabtu (26/9/2026).
Intervensi Terkoordinasi
Yen sebelumnya kembali berada di bawah tekanan karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan selisih suku bunga AS dan Jepang tetap lebar.
Ketidakpastian mengenai seberapa cepat Bank of Japan (BOJ) dapat melanjutkan kenaikan suku bunga juga membebani yen. Kondisi tersebut membuat yen mendekati level penting 160 per dolar AS pada pekan ini.
Pelaku pasar melihat area sekitar 160 yen per dolar AS sebagai level yang meningkatkan risiko intervensi. Sentimen di pasar opsi terhadap yen juga mulai lebih positif karena meningkatnya permintaan lindung nilai terhadap risiko intervensi Jepang.
Jepang dan AS pada musim panas tahun ini melakukan intervensi terkoordinasi pertama untuk membeli yen sejak 1998 setelah mata uang Jepang melemah melewati level 160 per dolar AS.
Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan pemerintah menghabiskan rekor 15,4 triliun yen atau sekitar US$ 97,4 miliar untuk intervensi dalam periode satu bulan hingga 26 Agustus.
Moh Siong Sim menilai yen mungkin mulai memasuki titik perubahan seiring meningkatnya perhatian AS terhadap pelemahannya.
“Yang lebih penting, yen mungkin mendekati titik balik karena kekhawatiran Trump terhadap pelemahan yen menunjukkan adanya koordinasi AS-Jepang yang lebih erat untuk mendukung mata uang tersebut.”
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
