Ketiga indikator tersebut menjadi gambaran kondisi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Data inflasi September 2026, neraca perdagangan Agustus 2026, dan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur September 2026 dirilis pada Kamis (1/10/2026).
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5% plus minus 1%.
Advertisement
Inflasi inti juga melandai menjadi 2,84% yoy. Sementara inflasi harga yang diatur pemerintah atau Administered Prices (AP) turun menjadi 3,25% yoy.
Namun, pemerintah masih mencermati tekanan dari kelompok pangan bergejolak atau Volatile Food. Inflasi kelompok ini mencapai 5,03% yoy, dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.
“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03% (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam," ujar Haryo dalam keterangan tertulis, Minggu (4/10/2026).
"Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” tambah dia.
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan
Untuk menjaga daya beli sekaligus mengendalikan harga pangan, pemerintah memperkuat sejumlah program. Di antaranya penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III dan bantuan pangan beras 10 kg per bulan selama Oktober hingga Desember 2026.
Pemerintah juga mempercepat penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog. Upaya tersebut dilengkapi dengan Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan kerja sama antardaerah (KAD).
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026.
Ekspor ditopang sejumlah komoditas utama. Ekspor besi dan baja mencapai US$19,18 miliar, tumbuh 4,88%. CPO dan turunannya mencapai US$17,75 miliar atau tumbuh 6,57%, sedangkan batu bara mencapai US$16,58 miliar atau tumbuh 4,31%.
Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62%. Kondisi ini menunjukkan kontribusi hilirisasi terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Sementara itu, impor didominasi bahan baku atau penolong serta barang modal yang secara total mencapai 91,3% dari keseluruhan impor.
Advertisement
PMI Manufaktur Indonesia
Peningkatan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26% serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94% menunjukkan kebutuhan input produksi dan barang modal ikut meningkat.
Kondisi tersebut sejalan dengan penguatan aktivitas produksi dan investasi domestik.
Sinyal positif lainnya datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 meningkat menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi.
Perbaikan PMI didukung peningkatan pesanan baru dan produksi, pertumbuhan pesanan ekspor, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli.
Pada September 2026, pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026. Pesanan ekspor juga mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Selain itu, penyerapan tenaga kerja, pembelian, dan persediaan input kembali meningkat. Dari sisi biaya, inflasi harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
