Rupiah naik 6 poin atau 0,03 persen ke level 17.911 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 17.917 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova memperkirakan rupiah justru akan kembali melemah setelah pembukaan perdagangan. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang 17.900 per dolar AS hingga 17.960 per dolar AS.
Advertisement
“Rupiah hari ini diperkirakan kembali melemah pada kisaran 17.900 per dolar AS- 17.960 per dolar AS dipengaruhi oleh global kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar walaupun harga minyak relatif turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini memudar,” ucapnya dikutip dari Antara.
Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari pasar keuangan Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah AS tercatat naik menjadi 5,31 persen, sementara indeks dolar AS berada di level 102,12.
Kenaikan yield obligasi AS dapat membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mulai berkurang seiring data tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan.
Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian
Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi salah satu sentimen yang dapat memberikan ruang bagi rupiah. Berdasarkan hasil survei, probabilitas suku bunga The Fed tetap pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 mencapai 80 persen.
Sementara itu, untuk pertemuan FOMC Desember 2026, survei menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 69 persen.
Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada lelang obligasi pemerintah Indonesia yang berlangsung hari ini. Tingginya yield obligasi pemerintah AS menjadi tantangan bagi surat utang Indonesia untuk tetap menarik bagi investor.
Rully menilai imbal hasil yang ditawarkan obligasi pemerintah Indonesia masih cukup menarik karena selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS relatif lebar. Namun, risiko di pasar juga meningkat.
“Lelang obligasi hari ini masih menawarkan bunga yg menarik, dimana spread selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS masih cukup lebar namun risiko meningkat tercermin dari CDS (Credit Default Swap) 5 tahun sebesar 95,69,” ungkap Rully.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Selasa akan dipengaruhi oleh perkembangan yield obligasi AS, indeks dolar, ekspektasi kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap lelang surat utang pemerintah Indonesia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
