Mengutip CNBC, Kamis (8/10/2026), harga minyak Brent, yang menjadi patokan global, turun 38 sen menjadi US$ 100,20 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun US$ 1,16 menjadi US$ 88,28 per barel.
Direktur IEA Fatih Birol mengatakan negara anggota sepakat mendukung “prioritas pelepasan stok solar, sejauh memungkinkan, mengingat kondisi pasar solar yang saat ini ketat.”
Advertisement
Birol menyebut negara anggota IEA telah menggelontorkan sekitar 325 juta barel minyak melalui rencana aksi darurat pada Maret untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Masih ada sekitar 100 juta barel yang belum dilepas melalui rencana tersebut.
IEA Masih Simpan 1,1 Miliar Barel
Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota IEA masih memiliki stok darurat setara 1,1 miliar barel minyak. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 200 juta barel solar.
“IEA siap melepaskan lebih banyak stok ini ke pasar jika dan ketika diperlukan,” kata Birol.
Pertemuan IEA dan pernyataan tersebut muncul setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas stok solar di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Namun, belum diketahui secara pasti berapa banyak solar yang akan dikeluarkan ke pasar.
Harga minyak sempat menguat pada awal perdagangan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah masih rentan terganggu.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan aliran minyak melalui jalur pipa East-West telah mencapai 5,8 juta barel pada Selasa pagi.
Advertisement
Risiko Geopolitik Masih Tinggi
Jalur pipa East-West Arab Saudi sebelumnya ditutup pada awal September setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone.
Namun, otoritas penerbangan Arab Saudi dilaporkan mengatakan bandara di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Selasa. Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Selain itu, langkah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran trader terhadap pasokan minyak dunia.
Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam mengatakan minyak masih “terjebak di antara membaiknya pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terus berlanjut.”
Analis Pasar Senior XS.com Samer Hasn menilai kemampuan Houthi menyerang fasilitas minyak yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan besar terhadap pasokan minyak mentah tetap tinggi.
“Risiko ini dapat memburuk jika Houthi merasa perlu meningkatkan tekanan akibat kehilangan lebih banyak wilayah,” kata Hasn.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
