"Jadi DKI mungkin bisa menjadi contoh. Karena di DKI inflasinya itu 2,5 persen, terendah di Jawa-Bali," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (12/10/2026).
Pramono menjelaskan, kunci keberhasilan menekan laju inflasi di ibu kota adalah intervensi aktif Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan dalam mengamankan pasokan komoditas vital.
Advertisement
Beberapa komoditas utama yang menjadi perhatian serius Pemprov DKI dalam menahan gejolak harga meliputi daging sapi, cabai, daging ayam, dan beras.
"Kenapa bisa terendah? Karena memang komoditas pemicu inflasi seperti daging, cabai, ayam, dan beras, semuanya ditangani langsung melalui BUMD," terang Pramono.
Peran BUMD Jaga Stabilitas Hari Besar Keagamaan
Ia mencontohkan peran strategis Perumda Dharma Jaya dalam menjaga pasokan daging sapi nasional maupun daerah. Pemprov DKI memberikan izin kuota impor pasokan daging sapi kepada BUMD tersebut guna mengantisipasi lonjakan permintaan.
"Dharma Jaya yang dulu tidak pernah mengimpor daging sapi, kemarin kami izinkan impor sampai dengan 7.500 ton. Itulah yang membuat momentum Idulfitri maupun Iduladha di Jakarta kemarin tidak mengalami lonjakan harga daging," ungkapnya.
Langkah taktis tersebut terbukti ampuh meredam lonjakan harga pangan saat momen hari besar keagamaan nasional, yang pada akhirnya menjaga laju inflasi Jakarta tetap stabil.
"Langkah-langkah itulah yang kemudian efektif menekan angka inflasi di Jakarta," tutup Pramono.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement


