Kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga komoditas energi tersebut.
Mengutip CNBC, Kamis (29/10/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik 1,3 persen dan ditutup pada level US$ 115,32 per barel.
Advertisement
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS melonjak 2,9 persen menjadi US$ 102,78 per barel.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, pemerintah AS disebut telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi operasi militer singkat tetapi intensif setelah pemilu paruh waktu.
Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan antara Washington dan negara-negara Teluk.
Laporan itu meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah, terutama jika serangan baru mengganggu produksi maupun distribusi minyak dari kawasan tersebut.
Donald Trump Buka Peluang Serangan Militer Baru
Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran harus berakhir sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan Washington. Ia juga menekankan bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Dalam kampanye di Texas, Trump mengatakan konflik dapat diselesaikan dengan cepat. Namun, setiap kesepakatan harus memastikan Iran tidak akan pernah menguasai senjata nuklir.
Pernyataan tersebut menyusul komentar sebelumnya ketika Trump mempertimbangkan dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan operasi militer.
Ketidakpastian arah kebijakan Washington membuat pelaku pasar terus mencermati kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Di tengah situasi tersebut, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menggunakan rudal balistik pada Selasa.
Klaim serangan itu semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas energi di Timur Tengah.
Pelaku pasar khawatir eskalasi konflik dapat mengganggu aliran minyak dari kawasan yang memiliki peran penting dalam pasokan energi global.
Advertisement
Ketidakpastian Politik Israel Tambah Tekanan Pasar
Selain ancaman konflik AS-Iran, perkembangan politik Israel turut menjadi perhatian pasar minyak dunia.
Pemilihan umum Israel diperkirakan menghasilkan kebuntuan politik setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun pesaing utamanya, Gadi Eisenkot, belum menunjukkan peluang jelas untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Hasil jajak pendapat sementara setelah pemungutan suara atau exit poll menunjukkan kedua blok politik belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang.
Situasi tersebut membuka kemungkinan berlangsungnya negosiasi koalisi yang panjang sebelum pemerintahan baru terbentuk.
Ketidakpastian politik Israel juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan negara tersebut terhadap Iran.
Sementara itu, kekhawatiran gangguan pasokan minyak akibat konflik Timur Tengah membuat harga minyak tetap dibayangi premi risiko geopolitik.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

