Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 juga mencatat surplus sebesar US$ 3,36 miliar atau Rp 60,9 triliun.
“Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Senin (2/11/2026).
Advertisement
BPS mencatat surplus perdagangan September terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar US$5,67 miliar. Komoditas lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja menjadi penyumbang surplus terbesar. Sementara itu, perdagangan migas mengalami defisit US$2,31 miliar akibat transaksi hasil minyak dan minyak mentah.
Ateng menjelaskan surplus perdagangan kumulatif masih mampu bertahan meskipun nilai impor tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor.
“Nilai ekspor Januari sampai dengan September 2026 mencapai US$221,23 miliar atau meningkat 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Nilai impor pada periode tersebut sebesar US$210,63 miliar atau meningkat 19,67%,” kata Ateng.
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan total terbesar dengan nilai US$14,26 miliar. India menyusul dengan surplus US$10,59 miliar dan Filipina sebesar US$6,48 miliar.
Sebaliknya, Tiongkok menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan nilai US$21,20 miliar. Indonesia juga mencatat defisit perdagangan dengan Singapura sebesar US$7,03 miliar dan Australia sebesar US$5,78 miliar.
Perdagangan Nonmigas
Khusus perdagangan nonmigas, Indonesia mencatat surplus terbesar dengan Amerika Serikat sebesar US$17,37 miliar, India US$10,81 miliar, dan Filipina US$6,25 miliar. Sementara itu, defisit nonmigas terbesar berasal dari Tiongkok sebesar US$21,99 miliar, Australia US$5,43 miliar, dan Prancis US$2,08 miliar.
Berdasarkan komoditas, lemak dan minyak hewani nabati menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai US$29,31 miliar. Bahan bakar mineral menyumbang surplus US$21,42 miliar, sedangkan besi dan baja sebesar US$13,95 miliar.
Di sisi lain, mesin dan peralatan mekanik menjadi penyumbang defisit terbesar dengan nilai US$23,74 miliar. Mesin dan perlengkapan elektrik mencatat defisit US$12,95 miliar, sedangkan plastik dan barang dari plastik sebesar US$7,02 miliar.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement




