Dari 14 analis yang mengikuti survei, 9 analis atau 64% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini. Sementara itu, hanya 2 analis atau 14% yang memprediksi harga emas kembali turun.
Sebanyak 3 analis lainnya atau 21% memperkirakan emas akan bergerak volatil dalam rentang sideways.
Advertisement
Sentimen positif juga terlihat dari investor ritel. Dalam jajak pendapat online Kitco yang diikuti 218 responden, 115 investor atau 53% memperkirakan harga emas naik pekan ini.
Sebanyak 52 investor atau 24% memperkirakan harga emas melemah, sedangkan 51 investor atau 23% lainnya memprediksi harga emas akan berkonsolidasi.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler, memperkirakan harga emas dapat menguat menjelang pertemuan Federal Reserve.
“Harga emas mungkin diperdagangkan lebih tinggi menjelang pertemuan FOMC,” kata Marc Chandler, dikutip dari Kitco, Senin (14/9/2026).
Ia memperkirakan area US$ 4.460-US$ 4.510 dapat menjadi target teknikal yang masuk akal. Namun, menurutnya, keputusan The Fed menjadi faktor utama yang akan menentukan arah emas.
Pandangan Analis Lainnya
Head of Currency Strategy investingLive Adam Button, memiliki pandangan berbeda. Ia memperkirakan harga emas akan turun karena The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga.
“Turun,” kata Button.
“The Fed akan menaikkan suku bunga, dan hal itu memberikan tekanan ke bawah terhadap harga emas. Namun, jika pernyataan dan konferensi pers tidak cukup hawkish, harga emas dapat dengan cepat kembali menguat," jelas dia.
Sementara itu, Darin Newsom, Senior Market Analyst Barchart.com, memperkirakan harga emas naik. Ia melihat kontrak futures Desember masih mampu bertahan di atas penutupan harian sebelumnya sehingga membuka peluang terbentuknya momentum bullish.
“Naik,” kata Newsom.
Adrian Day, President Adrian Day Asset Management, memilih sikap “Unchanged for now” atau belum berubah untuk saat ini. Ia menilai kemampuan emas bertahan di tengah kenaikan inflasi konsumen AS dan imbal hasil Treasury menunjukkan adanya kekuatan mendasar.
Menurut Day, emas perlahan membangun basis harga yang lebih tinggi di sekitar US$ 4.300 sebelum kembali bergerak naik.
Rich Checkan, President dan COO Asset Strategies International, juga memperkirakan emas naik. Ia menilai data inflasi AS memberikan sinyal yang beragam dan masih membuka ruang bagi emas untuk menguat.
Advertisement
Menunggu Keputusan The Fed
Analis logam mulia independen dan pendiri BubbleBubble Report, Jesse Colombo juga optimistis terhadap prospek emas. Ia menilai investor terlalu pesimistis menjelang rilis data inflasi AS.
“Saya pikir investor terlalu pesimistis pada pekan lalu,” kata Colombo.
Menurutnya, harga emas sempat kembali menguji level US$ 4.400 setelah data inflasi AS dirilis. Ia menilai level tersebut masih menjadi titik penting secara psikologis bagi pasar emas.
Colombo menyarankan kehati-hatian menjelang keputusan The Fed. Namun, ia memperkirakan emas berpotensi mengalami reli setelah keputusan tersebut diumumkan.
“Saya menduga akan terjadi reli ‘beli saat berita keluar’, sebuah reli karena kelegaan,” ujarnya.
Jika The Fed menaikkan suku bunga, Colombo memperkirakan emas tetap dapat menguat, sedangkan kenaikan berpotensi lebih besar jika bank sentral AS memilih menahan suku bunga.
Ia juga ingin melihat harga emas mampu ditutup solid di atas US$ 4.400. Jika level tersebut berhasil ditembus dan didukung volume perdagangan yang kuat, Colombo memperkirakan emas dapat menuju US$ 5.000 dalam beberapa bulan ke depan.
Alex Kuptsikevich, Senior Market Analyst FxPro, turut memperkirakan harga emas naik pekan depan. Ia melihat aksi beli saat harga turun masih menjadi sinyal positif dan menilai kondisi tersebut dapat mendukung emas, terutama ketika risiko ekonomi dan volatilitas pasar meningkat.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6




