Berdasarkan data perdagangan sore ini, mata uang Garuda ditutup merosot 57 poin atau melemah 0,32 persen ke tingkat 17.753 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, rupiah masih bertahan di posisi 17.696 per dolar AS.
Kondisi sejalan juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis sore, kurs JISDOR tercatat merosot ke level 17.753 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi 17.712 per dolar AS.
Advertisement
Direktur Laba Forexindo Berjangka sekaligus analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari manuver Federal Reserve (The Fed) yang resmi menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR).
“Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada hari Rabu (16/9). Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).
Ketegangan Suku Bunga AS dan Dampaknya ke Pasar
Ketegangan pasar makin tereskalasi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya dalam menekan laju inflasi di Negeri Paman Sam. Dalam sesi konferensi pers, Warsh menyoroti tren kenaikan harga tahunan yang melampaui angka 3 persen pada berbagai sektor barang maupun jasa selama rentang waktu 6 hingga 12 bulan terakhir.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Warsh memberi sinyal kuat bahwa peluang peningkatan suku bunga acuan lanjutan masih terbuka lebar dalam rentang beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, kebijakan ketat The Fed justru mendapat respons keras dari dinamika politik domestik AS. Sikap independen bank sentral mendapat tekanan langsung dari pucuk pimpinan eksekutif negara tersebut.
“Namun, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu (16/9) menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah, beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023. (Ini menunjukkan) gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen,” ucap Ibrahim.
Silat lidah antara otoritas moneter dan Gedung Putih ini pada akhirnya memicu ketidakpastian tambahan di pasar keuangan global, yang berdampak langsung pada pelemahan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement

