Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesStocksEarnInstitusiAI & Lainnya
Dana Rp 2.500 Triliun Belum Cair, BI Ungkap Penyebab Kredit Tertahan

Dana Rp 2.500 Triliun Belum Cair, BI Ungkap Penyebab Kredit Tertahan

Liputan6Liputan62026/09/25 01:57
Oleh:Liputan6
Pejabat Gubernur BI Sementara Destry Damayanti saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI terkait asumsi dasar RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 September 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta -
Bank Indonesia ( BI) mencatat dana kredit yang belum tersalurkan atau undisbursed loan masih berada di kisaran Rp2.500 triliun hingga saat ini. Bank Indonesia menilai kondisi tersebut terjadi karena faktor permintaan kredit dan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan likuiditas.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan nilai undisbursed loan relatif datar di sekitar Rp2.500 triliun. Bank Indonesia melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memantau kondisi tersebut karena penyaluran kredit menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi.

“Kita memang melihat Rp 2.500-an itu relatif flat. Angkanya di situ,” kata Destry dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Kamis (24/9/2026).

Destry menjelaskan pertumbuhan kredit hingga kuartal II 2026 masih banyak didorong oleh kebutuhan pemerintah. Namun, Bank Indonesia mulai melihat pergerakan permintaan kredit dari sektor swasta.

“Data terakhir, kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak. Sudah mulai bergerak naik,” ujar Destry.

Destry mengatakan peningkatan permintaan kredit tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia dalam menjaga kebijakan suku bunga. Bank Indonesia melihat potensi peningkatan aktivitas ekonomi dari sektor swasta melalui pembiayaan perbankan.

Di sisi pasokan, Destry mengatakan sebagian bank masih memilih menempatkan likuiditas pada surat berharga ketika permintaan kredit belum kuat. Bank menempatkan sebagian aset likuid tersebut pada Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Bank Indonesia kemudian menerapkan skema insentif dan disinsentif melalui kebijakan KLM untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit. Bank Indonesia memberikan insentif berupa pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) kepada bank yang memiliki penyaluran kredit lebih aktif.

 

Himbara Aktif Salurkan Kredit

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Sebaliknya, Bank Indonesia tidak memberikan insentif GWM kepada bank yang terlalu banyak mengalokasikan aset likuidnya pada surat-surat berharga. Kebijakan tersebut bertujuan mendorong likuiditas perbankan masuk ke sektor kredit.

Destry mengatakan, Bank Indonesia menerapkan kebijakan tersebut secara lebih terarah berdasarkan perilaku masing-masing bank. Bank Indonesia melihat kemampuan likuiditas dan penyaluran kredit setiap bank sebelum memberikan insentif.

“Kita melihat mana bank-bank yang menyalurkan kredit padahal dia punya likuiditas,” tutur Destry.

Destry menyebut kelompok bank Himbara menjadi salah satu kelompok yang aktif menyalurkan kredit. Bank Indonesia juga melihat sejumlah bank mulai menghadapi peningkatan permintaan kredit dari sektor swasta.

Pada Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan. Destry mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi dan kredit modal kerja.

“Ini sebenarnya hal yang bagus karena artinya pertumbuhan kredit itu masuk ke sektor produktif,” pungkas Destry.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!