Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan nilai undisbursed loan relatif datar di sekitar Rp2.500 triliun. Bank Indonesia melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memantau kondisi tersebut karena penyaluran kredit menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi.
“Kita memang melihat Rp 2.500-an itu relatif flat. Angkanya di situ,” kata Destry dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Kamis (24/9/2026).
Advertisement
Destry menjelaskan pertumbuhan kredit hingga kuartal II 2026 masih banyak didorong oleh kebutuhan pemerintah. Namun, Bank Indonesia mulai melihat pergerakan permintaan kredit dari sektor swasta.
“Data terakhir, kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak. Sudah mulai bergerak naik,” ujar Destry.
Destry mengatakan peningkatan permintaan kredit tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia dalam menjaga kebijakan suku bunga. Bank Indonesia melihat potensi peningkatan aktivitas ekonomi dari sektor swasta melalui pembiayaan perbankan.
Di sisi pasokan, Destry mengatakan sebagian bank masih memilih menempatkan likuiditas pada surat berharga ketika permintaan kredit belum kuat. Bank menempatkan sebagian aset likuid tersebut pada Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Bank Indonesia kemudian menerapkan skema insentif dan disinsentif melalui kebijakan KLM untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit. Bank Indonesia memberikan insentif berupa pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) kepada bank yang memiliki penyaluran kredit lebih aktif.
Himbara Aktif Salurkan Kredit
Sebaliknya, Bank Indonesia tidak memberikan insentif GWM kepada bank yang terlalu banyak mengalokasikan aset likuidnya pada surat-surat berharga. Kebijakan tersebut bertujuan mendorong likuiditas perbankan masuk ke sektor kredit.
Destry mengatakan, Bank Indonesia menerapkan kebijakan tersebut secara lebih terarah berdasarkan perilaku masing-masing bank. Bank Indonesia melihat kemampuan likuiditas dan penyaluran kredit setiap bank sebelum memberikan insentif.
“Kita melihat mana bank-bank yang menyalurkan kredit padahal dia punya likuiditas,” tutur Destry.
Destry menyebut kelompok bank Himbara menjadi salah satu kelompok yang aktif menyalurkan kredit. Bank Indonesia juga melihat sejumlah bank mulai menghadapi peningkatan permintaan kredit dari sektor swasta.
Pada Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan. Destry mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi dan kredit modal kerja.
“Ini sebenarnya hal yang bagus karena artinya pertumbuhan kredit itu masuk ke sektor produktif,” pungkas Destry.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
