Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$ 26,61 miliar, atau naik 6,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, nilai impor Indonesia pada periode yang sama sebesar US$ 23,06 miliar, naik 19,09 persen secara tahunan.
"Neraca perdagangan pada kondisi Agustus tahun 2026 ini mengalami surplus sebesar US$ 3,55 miliar," ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Advertisement
Ateng mencatat, surplus perdagangan komoditas nonmigas mencapai US$ 6,09 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
"Sedangkan neraca perdagangan migas pada Agustus tahun 2026 mengalami defisit sebesar US$ 2,54 miliar, dengan komoditas penyumbang defisit terutama dari hasil minyak dan juga minyak mentah," jelas Ateng.
Inflasi Indonesia Tembus 3,28 Persen pada September 2026
Sebelumnya, BPS mencatat tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026 sebesar 3,28 persen dibandingkan September 2025. Angka tersebut utamanya disumbang oleh kelompok komoditas pangan hingga emas perhiasan.
"Secara year-on-year pada September 2026 terjadi inflasi sebesar 3,28 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September tahun 2026," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi September 2026 secara tahunan utamanya didorong oleh tiga kelompok. Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,37 persen dengan andil inflasi sebesar 1,28 persen. Komoditas pendorong utama kelompok ini adalah ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), serta daging sapi.
"Kedua, kelompok pengeluaran transportasi juga mendorong inflasi secara year-on-year pada bulan September tahun 2026. Transportasi mengalami inflasi sebesar 4,84 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,58 persen," ungkap Ateng. Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas/oli mesin sepeda motor, pemeliharaan/servis, dan mobil.
"Ketiga, untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi secara year-on-year sebesar 7,77 persen dengan andil inflasi sebesar 0,53 persen. Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan," lanjutnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
